Surat Untuk Diriku Dimasa Depan

Surat Untuk Diriku Dimasa Depan

Terimakasih masa lalu, telah bersedia mengajarkan apa arti dalam kehidupan. Dahulu aku pernah berfikir untuk apa hidup? Ketika hidup teramat begitu semu. Dimana aku selalu terbuang dari lingkup kekeluargaan. Aku bingung apa yang selanjutnya harus dilakukan, aku tak punya arah begitupun rumah.

Tak punya tempat untuk pulang dan hati yang mengalami kesepian. Angin berhembus kian menusuk di dada seperti perkataan mereka yang selalu meludahi hati, perkataan yang selalu ku coba terima meski menyakitkan, perkataan yang merenggut sedikit demi sedikit umurku.

Manusia terlahir tidak memiliki kemampuan .. Namun tak lepas dari seseorang yang mengajari “harus seperti apa kamu hidup dimasa depan”. Hari-hari aku masih kecil, dimana kaki-kaki yang awalnya tercipta untuk bertumpu mulai dapat digerakkan untuk merangkak, kemudian bangun untuk duduk..hingga pada saatnya mampu membawa manusia kedalam arah-arah tertentu dalam hidupnya.

Mungkin, apa yang aku alami tidak teralami oleh orang lain. Tetapi, mungkin orang lain juga mengalami penderitaan yang mereka alami sendiri. Aku selalu sendiri dalam bertahan mengatasi masa sulit-sulit itu. Tak punya lagi dua orang malaikat yang selalu menami dikala sepi.

Hidupku Sunyi..

Beranjak dewasa begitu banyak pengharapan aku, ingin merasakan hal bahagia, menemukan apa arti cinta dan memiliki kehidupan yang aku selalu surat-surat kan dimasa lalu.

Lelah dan juga ingin menyerah selalu datang dan membuat diriku lemah. Aku memiliki banyak kekurangan untuk mendapat keistemewaan hidup dimasa depan. Memang, tak heran jika setiap orang memiliki ruang dan temponya masing-masing.

Hidup Lebih baik selalu diperjuangkan, aku perlu candu terhadap hal-hal yang baik untuk my self dimasa nanti yang akan aku tempuh. Mempunyai lawan(kemalasan) dengannya menjadikan keseharian, kebiasaan bahkan perlombaan untuk mengalahkannya. Tuhan meminta aku berlomba, namun dalam cara kebaikan.

“Selalu ada yang menderita, selalu ada yang lebih terluka dan selalu ada yang lebih tersakiti. Jangan mengeluh! karena aku sedaang berjuang.”

whyu
Artikel Lainnya :  Mengapa Manusia Jatuh Cinta ?

About the author: Moslem

Hanya manusia yang sedang mencari jati diri dan ingin bermamfaat bagi orang lain.

Related Posts

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *